Banyak sekali masyarakat kelas menengah/menengah-bawah yang antipati dengan masyarakat yang berpenghasilan tinggi. Saya adalah salah satu antipatisan tersebut, dulu.
Kini, pandangan saya terbuka.
(Terutama setelah membaca buku Untuk Indonesia yang Kuat karya Ligwina Hananto)
Bahwa menjadi kaya di antara yang miskin bukanlah sesuatu yang harus dianggap tak manusiawi.
Bahwa mempunyai modal bukan lantas menjadikan kita mandor jahat yang tertawa di atas penderitaan orang lemah.
Bahwa memiliki penghasilan yang tinggi bukanlah aib.
Tentu saja dengan catatan: kekayaan, penghasilan, dan modal yang diperoleh tersebut adalah atas hasil jerih payah kita dan bukannya dengan memakan hak-hak negara atau rakyat. Tentu saja.
Bahwa dengan kekayaan kita, kita dapat menyumbang lebih banyak untuk kaum dhuafa.
Bahwa dengan modal kita, kita dapat berinvestasi di dalam negeri, di sektor usaha kecil/menengah, sehingga dapat turut memutar roda ekonomi rakyat kecil.
Bahwa dengan penghasilan kita, kita turut menyumbang pajak yang besar untuk pembangunan.
Membantu subsidi bahan bakar untuk rakyat kecil.
Membantu subsidi pendidikan untuk yang tak mampu.
Membantu asuransi kesehatan bagi yang lemah.
Jika bekerja jujur, hidup sederhana, dan fokus pada investasi dalam negeri,
janganlah malu jadi orang kaya.
***
Tentu saja ini bukan pembelaan terhadap koruptor.
Tentu saja ini bukan pembenaran untuk mereka yang konsumtif akan komoditi asing.
Tentu saja ini bukan berarti saya orang kaya, kerja tetap saja saya belum.