..if you treat people who are inferior to you RUDELY!
Supir juga manusia.
Pembantu juga manusia.
Pelayan juga manusia.
Nasibnya aja beda. Jangan hanya karena Anda punya uang banyak maka Anda merasa berhak berbuat seenaknya.
14 Wednesday Mar 2012
Posted in uncategorized
..if you treat people who are inferior to you RUDELY!
Supir juga manusia.
Pembantu juga manusia.
Pelayan juga manusia.
Nasibnya aja beda. Jangan hanya karena Anda punya uang banyak maka Anda merasa berhak berbuat seenaknya.
13 Tuesday Mar 2012
Posted in uncategorized
Dulu pernah berjanji sama diri sendiri bahwasanya jika gw bekerja di Jakarta, gw ga akan naik mobil pribadi. Alasan kerennya antara lain karena bawa mobil pribadi itu boros BBM, pegel kaki, bikin macet, boros bayar parkir, boros bayar tol, ribet markirinnya, etc, etc. Alasan cupunya karena memang gw belum bisa nyetir sih… #teot. Tapi intinya ya kalaupun nanti bisa bawa mobil, gw tetep ga akan mau.
Oleh karena itu 2 minggu ini gw mencoba berbagai variasi rute transportasi dari kantor (Slipi) ke rumah (Jatibening). Yang mana itu adalah rumit banget. Karena Slipi adalah lokasi perkantoran yang kurang strategis antimainstream. Dan karena Jatibening adalah lokasi perumahan yang jauh dari terminal bis dan stasiun KA jauh dari hingar-bingar terminal dan stasiun.
Variasi 1: TransJakarta lalu disambung angkot
It sounds perfect, but it is not, at all. Koridor TransJakarta Slipi adalah koridor dengan mixed traffic terparah. Artinya, si Trans ini harus berebut jalur dengan kendaraan lain. Apalagi kalau jam masuk-pulang kantor di ruas Gatot Subroto – MT Haryono, ya…… Bisa-bisa durasi perjalanan sampai 2.5 jam. (X)
Variasi 2: bus umum dari depan kantor
Ini juga sama aja terjunnya. Karena bus yang lewat depan kantor hanya sedikit, rata-rata mereka masuk tol duluan. Atau, pas busnya udah sampai depan kantor gw, semua seat pasti udah keisi. Yg ada gw harus berdiri 1 jam (manja dan pemalas). (X)
Variasi 3: omprengan dari Semanggi
Ini juga ga beres. Karena omprengan yang ke Jatibening bisa dibilang hanya sedikit dan ngetemnya juga lama. Tapi yg lebih parahnya adalah perjalanan dari tempat ngetem (dekat Plaza Sentral) ke tol Semanggi-nya itu……sangat jammed. Bisa 1.5 jam total perjalanan, deh. (X)
Variasi 4: nebeng
Ini sih enak banget memang. Hanya 45 menit perjalanan. Nyaman. Tapi yg ditebengin kan belum tentu bisa… Lebih sering ga bisanya dibanding bisanya, mungkin. (X)
Sampai pada akhirnya kemarin gw menemukan rute yang oke.
Yaitu naik bus umum dari Tomang. Jadi, gw naik Kopaja dulu ke arah Tomang, lalu naik bus dari situ ke Jatibening. Bus di situ masih kosong, masih ada 10-an sisa kursi lah. Pakai AC, nyaman, tinggal duduk, dan sampai terminal bayangan Jatibening paling lama 1 jam kemudian, karena dia langsung masuk tol sebelum Semanggi, jadi nggak pakai macet-macetan di Semanggi dulu. (V)
Masalah lain setelah ini adalah jika terminal bayangan Jatibening jadi ditutup oleh Jasamarga. Jadi rute itu ga akan bisa diandalkan lagi. Terpaksa naik bus ke Cawang dan nyambung angkot ke Jatibening. Kalau itu sih paling cepat 1.5 jam lah……. Masalah lainnya kalau gw nanti sudah banyak lembur…dan harus pulang sekitar jam 9 malam. Itu kalau naik angkutan umum lumayan ga berani, sih.
Begitulah dinamika kehidupan berkomuter Jakarta – Bekasi. Harapan gw sebagai warga adalah semoga jalur TransJakarta koridor 9 bisa disterilkan (walau sepertinya sulit sih), jadi waktu perjalanan bisa dipersingkat hingga 50%. Atau terminal bayangan Jatibening difasilitasi sehingga bisa jadi terminal resmi. Harapan gw sebagai pegawai lembur adalah semoga dapat voucher taksi.
06 Tuesday Mar 2012
Posted in uncategorized
Yang mau hidup, harus makan. Yang dimakan, hasil kerja. Jika tidak bekerja, tidak makan. Jika tidak makan, pasti mati! Inilah undang-undangnya dunia, inilah undang-undangnya hidup! Mau tidak mau semua makhluk harus menerima undang-undang ini. Terimalah undang-undang itu dengan jiwa yang besar dan merdeka. Jiwa yang tidak menengadah melainkan kepada Tuhan!
— Soekarno | Jakarta, 17 Agustus 1953