Tidak kenal tetapi tetap sayang, tidak familiar tetapi tetap menganggap kita famili, tidak tahu tetapi tetap mau membantu.
Teh Ani
Ibu muda dari Bandung yang menemukan kartu ATM-ku yang tertinggal di saalah satu mesin ATM di Bandung Indah Plaza, tahun 2010. Saat itu aku tidak sadar hingga sampai di rumah. Tidak tahu lagi harus bagaimana, hanya bisa memblokir kartu saja. Tiba-tiba di Facebook-ku ada pesan masuk, memberitahuku bahwa kartu atas namaku ditemukannya, dan ia ingin mengembalikannya. Keesokan harinya kami janjian di toko Alisha di jalan Merdeka, dan aku berkenalan dengannya, berterima kasih padanya, juga pada Tuhan.
Mbak Diana
Perempuan yang umurnya mungkin belum jauh di atasku, yang ku kenal di halte bus saat menunggu angkutan yang lama datangnya, dan teman perjalanan bermacet ria. Dengan semangat memberitahuku cara-cara baru menuju kantor. Dengan baiknya menjelaskanku cara pulang alternatif, bahkan bersedia pulang lebih lama untuk memastikan aku sampai pada bus lanjutan yang tepat.
Mbak Sandra
Aku berjilbab, ia kristen Tionghoa. Kami sedang di Jakarta Barat. Mengingat sejarah kelam belasan tahun lalu antara kedua entitas kami di daerah sana, aku sebenarnya paham jika ia malas bercengkerama. Tetapi ia sungguh tidak begitu, dan aku bersyukur pada Tuhan atas kebaikan hati manusia, melihat manusia lain terlepas dari identitas suku dan agama belaka. Hari itu dengan cerianya ia menjelaskanku mengenai bus lanjutan ke arah yang aku sama sekali masih buta. Bahkan memberiku kartu nama untuk kita bisa bersilaturahmi lagi di kemudian hari.
—
Di rutin hari-hari yang kadang melelahkan, adanya orang asing yang bersahabat sungguh seperti oase di padang pasir—menyegarkan. :D