Ada berapa saudara/teman dekat kamu yang punya DSLR dan/atau toy camera? Pasti rata-rata banyak yah. Saya sendiri dikelilingi oleh orang-orang yang menggemari fotografi.
- Ditta sudah menggemari sejak SMP.
- Inu pernah ikut les di Oktagon.
- Puty baru saja ikut pameran foto di Goethe Haus.
- Ramtot baru mulai setahun belakangan ini, tapi sudah punya sembilan buah kamera.
- Gesit bahkan menjadikan fotografi sebagai mata pencaharian sampingannya.
Senang sekali dikelilingi oleh orang-orang seperti mereka karena suatu saat pasti ada saja karya-karya mereka yang dapat saya nikmati lewat berbagai media-media sosial yang ada. :)
Saya sendiri? Masih berkutat dengan kamera handphone yang kadang-kadang error. ^^
Bukannya saya tidak tertarik untuk belajar fotografi. Tertarik, sih, pasti. Setiap melihat hasil foto yang bagus, pasti terpikir untuk lalu meminta uang ke papa untuk dibelikan kamera DSLR. Masalahnya tepat sekali ada di sana: uangnya masih uang papa dan belum uang penghasilan saya sendiri. Teman-teman dan saudara saya rata-rata sudah punya pekerjaan kecil-kecilan sendiri dan/atau menabung untuk keperluan hobi fotografinya. Sedangkan saya masih bergantung dengan kebaikan hati si papa. ^^ Walaupun sebenarnya si papa membolehkan, pasti tetap saja saya tidak enak untuk mengeluarkan uang tersebut.
—
Entah ini berkah atau kutukan, sepertinya saya memang terlahir menjadi orang yang perhitungan dan tidak enakan.
- Dua konser musik terakhir yang saya datangi semuanya gratisan. Konser Hind beberapa waktu lalu di Sabuga dan Muse tahun 2007 di Istora Senayan.
- Pengeluaran untuk baju dan buku saya atur perbulan.
- Handphone saya masih model yang lama, dibelikan orang tua saya sebagai hadiah ulang tahun saya dua tahun lalu.
- Jam tangan saya lungsuran dari mama. Jam tangan lama tersebut bahkan baru ditemukan saat saya sekeluarga sedang beres-beres rumah. -__-”
Rasanya belum pantas saya meminta barang-barang di luar kebutuhan primer seperti uang makan (pangan), uang kosan (papan), dan uang bayaran spp serta buku kuliah (pendidikan). Kalaupun ada barang-barang kebutuhan sekunder dan tersier yang saya inginkan/butuhkan, biasanya saya melakukan semacam analisis kondisi terlebih dahulu. Apa barang itu benar-benar penting? Kegunaannya apa? Apakah bisa menjadi barang yang produktif? Dan sebagainya. Intinya, saya tidak ingin memberatkan orang tua terutama si papa.
Ada suatu mitos yang pernah saya dengar tentang sosok ayah pada umumnya, seperti ini:
Saat kita minta sesuatu ke ayah, walaupun awalnya beliau menolak mentah-mentah, tapi dalam hati beliau pasti berjanji akan mengumpulkan uang agar nanti beliau mampu memberikannya untuk kita.
:’)
Dan saya percaya itu. Makanya saya termasuk yang sangat hati-hati jika ingin mengucap permintaan ke papa. Takut nantinya beliau kepikiran. ^^
Anyway, back to topic.. Fotografi.
—
Walaupun kamera yang saya punya hanya sebatas kamera handphone Nokia 5220, saya mau juga dong sharing foto-foto saya. ^^
So here goes.. (….maaf tiba-tiba ingin menulis dengan bahasa Inggris. Labil. ^^)
♥ Risa’s Months in Photos: February – April 2010 ♥
Meet Ipipip the new hamster.
Im still not sure if its a he or a she. Anyway, Ipipip has been in Fendi’s good care since Feb 21st. I gave Ipipip to Fendi as his birthday present. (Feb 23rd)
Meet the rocks. Literally.
I study rocks a lot. These are some samples we use for engineering geology lab. FYI, those rocks, on that pic, are put on a mesh. And its wrong to put heavy things on a mesh. So, dont. Unless you want your lab assistants get mad at you. (March 4th)

Meet the yellow-jackets from far-east ITB.
I mean, my fellow friends from GEA – geological engineering student body. That picture was taken after a 31 consecutive hours of meetings. I was tired. But I strangely felt happy at the same time. (March 14th)
Meet the Faber-Castell colour pencils.
I use them a lot in some of my labs. Did you know Faber-Castell is a German word? So we have to pronounce it like: fa (as in ‘far’), ber (as in ‘november‘), cas (as in ‘uang kas‘), and tell (as in ‘tell‘). Dont pronounce it like: fa (as in ‘faded’) and cas-tle (as in castle = istana). (March 18th)
Meet my sister, Shania.
She wears her hoodie frontside-back. So that it looked like her face was all hairy and scary. Does it seem scary at all to you? (March 27th)
Meet Fendi Yusuf.
We were on a car wash. At car washes, all that Fendi cares about is his car. I was busy taking pictures he would not even notice. (April 9th)
—
Nah demikianlah sekelumit foto-foto à la kadarnya dari kamera handphone saya. Walaupun gambarnya kadang buram dan no skill, paling tidak masih ada sedikit yang dapat diceritakan dan dikenang. Doakan saja suatu saat saya berkesempatan memiliki kamera DSLR yang mantap-mantap itu. But until then, meet my mediocre photos, amigos! :D
Adiós, cheerios!
Like this:
Like Loading...